Rabu, 14 Januari 2009

REFLEKSI GURU MATEMATIKA IDEAL

REFLEKSI GURU MATEMATIKA IDEAL
REFLEKSI GURU MATEMATIKA IDEAL
Pendahuluan
A.Latar Belakang
Menjadi guru ideal ? Suatu cita-cita yang mulia meskipun sulit untuk mewujudkannya. Namun demikian bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Peran guru sampai saat ini bagaimanapun juga masih dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Dalam proses pembelajaran di sekolah peran guru selain sebagai sumber pembelajaran juga sebagai sutradara pembelajaran di kelas.. Sejalan dengan perubahan paradigma pembelajaran saat ini guru tidak lagi menjadi pusat pembelajaran ( teacher centered) namun siswalah sebagai pusat pembelajaran (student centered). Dengan perubahan paradigma ini peran guru semakin diminimalkan. Siswa sebagai manusia muda pada hakekatnya sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu mungkin dapat berkembang sekalipun peran guru sangat kecil dalam proses pembelajarannya. Namun sebagai makhluk sosial tetap saja dibutuhkan interaksi antara siswa dengan orang lain, baik dengan sesama siswa maupun dengan guru dan masyarakat sekitar.
Sebagai manusia, siswa sudah dibekali oleh Sang Khalik dengan berbagai kecerdasan dimana kecerdasan-kecerdasan itu pada akhirnya akan mendorongnya menjadi manusia yang sukses. Kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa secara garis besar dibagi menjadi tiga, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Ketiga kecerdasan itu dapat berkembang dengan baik tidak hanya semata-mata peran satu orang saja namun juga peran semua orang yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran siswa. Orang tua, masyarakat lingkungan sekitar tempat tinggal siswa, guru, masyarakat di lingkungan sekolah adalah orang-orang yang ikut berperan dalam pembelajaran siswa.
Proses pembelajaran merupakan proses yang tidak terbatas. Pembelajaran berlangsung tidak memperhatikan dimana, bagaimana, kapan atau pada usia berapa pembelajaran terjadi. Proses pembelajaran berlangsung seumur hidup, sepanjang hayat mulai seseorang lahir sampai akhir hidupnya. Proses pembelajaran merupakan tindakan atau pengalaman yang mempengaruhi perkembangan individu dalam aspek fisik, daya jiwa ( akal, rasa, kehendak), sosial dan moralitas dalam pertemuan dan pergaulannya dengan sesama dan dunia serta hubungannya dengan Tuhan.
Melihat betapa pentingnya proses pembelajaran bagi manusia, terlepas sedikit atau banyak, peran seorang guru sangat penting. Guru sebagai sosok pribadi, manusia yang monopluralis memiliki banyak kelemahan dan kelebihan. Namun demikian kelemahan yang dimilikii seorang guru selayaknya tidak menjadi penghambaat dari berlangsungnya proses pembelajaran itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
Melihat betapa pentingnya peran seorang guru dalam proses pembelajaran maka masalah yang diambil dalam makalah ini adalah : Bagaimana sosok guru matematika yang ideal ?
Pembahasan
Menurut Notonagoro dalam Dwi Siswoyo (2008 : 10) manusia adalah makhluk monopluralis, yaitu manusia yang memiliki banyak unsur kodrat (plural) namun merupakan satu kesatuan yang utuh (mono). Jadi manusia terdiri dari banyak unsur kodrat yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Namun jika ditinjau dari segi kedudukannya, susunan dan sifatnya manusia bersifat monodualis. Dari segi kedudukan kodratnya manusia yaitu sebagai makhluk individu atau pribadi dan makhluk Tuhan. Dari susunan kodratnya manusia terdiri dari unsur raga dan jiwa. Dari segi sifat kodratnya manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Karena itulah manusia disebut sebagai makhluk mono pluralis.
Manusia menurut Tirtarahardja dalam Dwi Siswoyo (2008:11) merupakan makhluk berdimensi banyak, yaitu dimensi keindividualan, kesosialan, kesusilaan dan keberagaman. Dimensi keindividualan bahwa manusia memiliki keunikan. Setiap manusia memiliki potensi untuk berbeda dengan orang lain. Karenanya manusia memiliki kehendak, perasaan, cita-cita yang berbeda. Dimensi kesosialan bahwa manusia memiliki potensi untuk bersama dengan orang lain, berinteraksi dengan sesamanya. Dimensi kesusilaan bahwa manusia mempunyai potensi moralitas atau kesusilaan, yaitu bahwa dalam diri manusia ada kemampuan untuk berbuat kebaikan. Manusia susila menurut Drijakara dalam Dwi Siswoyo(2008:12) adalah manusia yang memilikii nilai-nilai, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dimensi keberagaman bahwa manusia adalah makhluk religious, yaitu mengakui adanya kekuatan diluar dirinya yang disebut dengan Tuhan.
Dari berbagai pengertian dan hakekat manusia maka guru dalam proses pembelajaran juga harus memandang siswa sebagai makhluk monoplularis. Dengan demikian maka semua potensi yang dimiliki oleh siswa dapat berkembang dengan optimal. Begitu juga sebaliknya bahwa guru juga manusia biasa. Karenanya ia pun harus dipandang sebagai makhluk monopluralis juga agar semua potensi yang dimilikinya dapat digunakan untuk memanusiakan manusia dalam proses pembelajaran.
Menurut Carter V Good dalam Dwi Siswoyo(2008:18) pendidikan merupakan proses keseluruhan dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai positif dalam masyarakat dimana dia hidup. Pendidikan juga merupakan proses sosial dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga ia mengalami perkembangan sosial dan kemampuan individual yang optimal.
Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Dari beberapa pengertian pendidikan dan pentingnya proses pembelajaran berlangsung maka sosok guru yang ideal sangat dibutuhkan. Guru tidak hanya dituntut untuk menjalankan tugasnya menyampaikan materi, tetapi juga harus dapat menggali semua potensi yang dimiliki siswanya agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Dan untuk dapat melakukan hal tersebut tidaklah mudah. Dibutuhkan pengalaman, pengetahuan, ketrampilan serta kearifan guru untuk dapat memilih hal-hal mana yang perlu disampaikan kepada siswanya, potensi-potensi apa yang dimiliki siswa dan dapat berkembang baik serta menunjang bagi masa depannya.
Guru ideal bukan hanya dapat bersikap professional namun lebih dari itu. Dia juga harus dapat menanamkan nilai-nilai moral yang dimilikinya untuk dapat diterapkan oleh siswa pada kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral yang disampaikan kepada siswa tidak hanya lewat ungkapan kalimat semata-mata namun juga disertai contoh penerapan yang dilakukan guru dalam kehidupannya sehingga siswa tidak hanya memahami secara teori namun dapat juga melihat secara langsung bagaimana nilai-nilai moral diterapkan oleh guru mereka. Dengan kata lain guru dapat memberikan contoh yang nyata melalui perbuatannya.
Sosok guru ideal tidak hanya dapat menjaga nama baiknya sendiri namun juga harus dapat menjaga nama baik siswa, orang tua siswa bahkan bangsa dan negaranya. Menjaga nama baik tidak hanya lewat prestasi saja namun juga dedikasinya terhadap pendidikan. Jika guru sudah bertekad mengabdikan diri dan ilmunya untuk pendidikan maka sesulit apapun rintangan yang dihadapinya tidak akan membuatnya lemah, namun justru memperkuat diri dan kepribadiannya agar tetap berjuang bagi pendidikan.
Guru ideal tidak hanya dapat menjaga kode etik keguruannya namun juga harus dapat mengajak siswa dan masyarakat sekitarnya untuk dapat berperan aktif menjaga dan mengembangkan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat sebagai salah satu pedoman bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar tercipta masyarakat yang bermoral dan menjadikan agama serta moral sebagai landasan kehidupannya.
Selain itu guru ideal adalah guru yang senantiasa belajar dan belajar untuk menggali semua potensi yang dimilikinya sehingga ia dapat menerapkannya dalam proses pembelajaran siswa, mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki siswa dan tidak akan puas sebelum pembelajaran yang berlangsung mencapai makna tertinggi bagi siswanya.
Guru, terlepas dari tugas yang diembannya, hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan disamping kelebihannya. Namun dalam kekurangan yang dimilikinya ia adalah sosok yang tidak menginginkan siswanya serba kekurangan, baik dilihat secara materi, kekayaan hati, maupun spiritual–religinya.
Potensi-potensi yang dimiliki guru diatas merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru ideal, kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian dan professional. Keempatnya tidak akan berarti apa-apa jika ia tidak mengerti jati diri, harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Pada akhirnya pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan lebih bermakna jika ia dapat menerapkan apa yang dianut oleh tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, Ing ngarso sung tulodho , ing madya mangun karso, tut wuri handayani.
Penutup
Pendidikan, dalam hal ini proses pembelajaran, tidak bisa terlepas dari peran seorang guru. Guru matematika yang ideal adalah guru matematika yang dapat mengembangkan semua kompetensi yang ada pada dirinya, kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan professional.
Keempat kompetensi yang ada dalam diri guru tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada ketulusan untuk mengabdi pada dunia kependidikan. Pengabdian yang ikhlas akan mendorong pada proses pembelajaran siswa yang bermakna.
Akhirnya dipenghujung tulisan ini marilah sebagai pendidik, kita berusaha menjadi guru ideal baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, siswa-siswa kita demi masa depan bangsa dan negara.

1 komentar:

guru-id.com mengatakan...

terima kasih atas infonya, karena saat ini saya masih bingung mengisi jalur sertifikasi guru yang benar.